Selama 3 hari (30 April – 2 Mei 2010), kelas IX mengikuti kegiatan Live in di kampung Wangun, desa Cisarua, kecamatan Samarang, kabupaten Garut gitu lho…

Kegiatan dimulai dengan perjalanan selama ± 2 jam menyusuri jalanan terjal, berbatu, berlubang cukup dalam, berkelok, dan menanjak yang mengakibatkan sebuah mobil harus didorong paksa. Ugggghhh…., mana anak-anak cewek menjerit histeris, was-was bila mobil menggelinding turun ke jurang. Hhiiii…., ngeri uy!!! Namun di balik perjalanan mencekam itu, telah menunggu suatu petualangan seru, heboh, dan pelajaran menarik tentang kehidupan di suatu kampung yang sederhana dan berbudaya…

Mereka tinggal di keluarga-keluarga baru alias orang tua asuh baru. Beradaptasi dan mengikuti seluruh kegiatan orang tua asuh. Setiap rumah kedatangan penghuni baru sebanyak 3 orang, he..he..he..

Di kampung Wangun, masyarakatnya sederhana. Kami pun memasak menggunakan hawu (perapian), susah euy menyalakan kayunya… Jangan bayangkan kompor gas, toilet seperti di rumah kita, atau pertokoan bagus… Di sana semua itu nggak ada. MCK pun hanya berupa bilik bambu setengah badan dengan sebuah pancuran. Wuiiihhh…bayangkan kalo mau mandi, yang cewek harus pake kain ya!! Warungpun amat sederhana. Di sana jauh dengan pasar. Gimana dong kalau mo masak??? Yaaa memasak hasil kebun aja, semua juga begitu.

Menu sehari-hari kami adalah : nasi (merah), ikan asin, sambal, daun singkong, dan sayur (jika ada). Pagi hari makan singkong goreng atau rebus!!Kami berladang juga. Jaraknya lumayan jauh, namun mereka tak pernah mengeluh jaraknya jauh, panas, hujan… Kita bahkan cepat mengeluh bahkan untuk hal-hal sederhana sekalipun.  Ada yang berladang sendiri atau bekerja di ladang orang. Upah pekerja wanita Rp 10.000/hari sedangkan pekerja pria Rp 15.000/hari. Perbedaan gender juga masih mempengaruhi kehidupan keseharian mereka.

Banyak dari mereka yang putus sekolah dan langsung menikah di usia dini. Bayangkan, kita masih senang bermain dan berkumpul bersama teman sebaya, sedangkan mereka sudah harus menanggung hidup/menafkahi anak – istri mereka.

Terimakasih banyak untuk semua masyarakat Wangun yang budiman, yang telah mengajarkan kami kesederhanaan dan bagaimana menjalani hidup. Kita harus lebih bersyukur dengan keadaan kita. Kadang kita lupa untuk bersyukur atas hal-hal yang telah kita terima sejauh ini.

Hhmmmm…., semoga tahun depan ada Live In lagi….. Sayonara kampung Wangun, kapan-kapan kita main ah ke sana…..